Perebutan
“Waktunya sudah tiba. Tak perlu menunggu mereka yang belum datang.”
Elder Ming melanjutkan.
“Kalian datang kemari tak lain demi White Bone Temple. Aku tidak akan berpanjang lebar. Aku tahu anak-anak muda seperti kalian tidak suka mendengarkan basa-basi.”
“White Bone Temple telah terbuka, dan para ahli Hundred Races sudah mulai bergerak. Kalian tentu sudah mengetahui hal ini.”
Shen Cangming mengangguk.
“Elder Ming benar. Banyak tokoh unggulan Hundred Races telah dikerahkan, termasuk beberapa sosok yang menyimpan dendam mendalam terhadap umat manusia.”
Mendengar itu, sejumlah orang langsung menimpali.
“Benar. Beberapa hari lalu, Daoist Illusory Heart membantai habis Helan Squad.”
“You Race juga sudah bergerak. Bahkan Helan Mingyuan pun terbunuh.”
Gumaman kian ramai. Raut wajah banyak orang mulai dibayangi kekhawatiran.
Elder Ming mengangguk pelan. Ia menunggu sampai suara-suara itu mereda sebelum melanjutkan.
“Setiap kali White Bone Temple terbuka, pertumpahan darah selalu menyusul. Kali ini pun tak akan berbeda.”
Ia mendongak, memandang sembilan bola api yang menggantung tinggi di langit, jauh di arah cakrawala.
“Sejak lama, semua faksi mengincar benda-benda di dalam White Bone Temple. Tak seorang pun akan menyerahkannya begitu saja.”
Elder Ming menarik pandangannya kembali. Suaranya merendah.
“Untuk perjalanan ke White Bone Temple kali ini, Huntian Hall hanya menetapkan satu syarat. Siapa pun di antara kalian yang memperoleh harta di dalamnya, itu tidak jadi soal. Namun, kalian sama sekali tidak boleh membiarkannya jatuh ke tangan Hundred Races—terutama mereka yang memusuhi umat manusia.”
Kilatan dingin melintas di mata Zhao Qingluan.
“Tentu saja!”
Shen Cangming menjawab sambil mengetukkan Red Copper Short Staff miliknya perlahan ke tanah. Senjata berat itu mengeluarkan dengung rendah.
Saat itulah, seseorang dari kerumunan berseru.
“Elder Ming, apakah Anda mengetahui keadaan di dalam White Bone Temple secara terperinci? Kami mendengar tempat itu sangat ganjil dan penuh bahaya mematikan. Kami berharap Anda berkenan memberi sedikit petunjuk.”
Banyak orang langsung menajamkan telinga.
Bagi orang luar, bagian dalam White Bone Temple merupakan misteri yang tak terungkap. Informasi yang tersedia pun hanya berupa serpihan-serpihan tak lengkap.
Jika mereka bisa memperoleh beberapa keterangan penting dari Elder Ming, peluang keberhasilan perjalanan kali ini tentu akan jauh lebih besar.
Elder Ming terkekeh pelan. Senyumnya sarat makna.
“Aku memang tahu sedikit.”
Namun, ia tidak segera melanjutkan dan justru terdiam sejenak.
Semua orang menahan napas, menantikan ucapannya berikutnya.
“White Bone Temple bukanlah tempat biasa. Di dalamnya penuh dengan berbagai keanehan. Apa yang kulihat dan kudengar saat memasukinya bertahun-tahun silam belum tentu sama dengan sekarang. Ketika kalian masuk nanti, keadaan di dalamnya bisa jadi sudah sama sekali berbeda. Karena itu, aku tidak akan menjelaskan rinciannya.”
“Lebih baik tidak kukatakan.”
Hati semua orang mencelos.
Chen Qing mengerutkan kening.
Ganjil? Nama White Bone Temple saja sudah memancarkan kesan menyeramkan.
Gunungan mayat dan kuil suram yang mencekam—mendengar namanya saja sudah cukup untuk membuat bulu kuduk meremang.
Kini, bahkan Elder Ming, yang telah menjaga tempat ini selama bertahun-tahun, memilih menutup rapat segala perinciannya dan enggan menjelaskan lebih jauh. Itu hanya bisa berarti bahwa bahaya di dalamnya melampaui pemahaman orang biasa.
“Pesanku tadi sangat penting.”
Elder Ming menyapu wajah orang-orang di hadapannya dengan pandangan.
“Jika benda-benda di dalam White Bone Temple jatuh ke tangan Hundred Races, besar kemungkinan tak seorang pun dari kalian akan keluar hidup-hidup.”
Raut hampir semua orang seketika menegang.
Chen Qing menarik napas dalam-dalam, lalu merenung dalam diam.
Ucapan itu semestinya bukan sekadar ancaman kosong.
Dengan kedudukan Elder Ming, tidak ada alasan baginya untuk menakut-nakuti mereka dengan kata-kata semacam itu.
Jika ia sampai berdiri di sini dan mengutarakannya sendiri, berarti ada sesuatu yang sungguh-sungguh ia takuti.
Bukan White Bone Temple itu sendiri yang ia takutkan, melainkan apa yang akan terjadi jika Hundred Races berhasil merebut harta di dalamnya.
Itulah malapetaka yang sesungguhnya.
Di tengah suasana yang kian berat, Elder Ming tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
“Meski begitu, kalian tak perlu terlalu tegang. Sejak benda itu muncul, belum pernah ada yang berhasil membawanya pergi. Jika salah seorang dari kalian sanggup mendapatkannya, itu akan menjadi keberuntungan yang luar biasa besar.”
Ia mundur selangkah di anak tangga, lalu menautkan kedua tangan di belakang punggung.
“Baiklah, kalian boleh berangkat hari ini. Dengan begitu banyak faksi dan ahli yang terlibat, siapa pun yang masuk lebih dahulu tentu akan lebih diuntungkan.”
Elder Ming menyipitkan mata.
“Bahkan sebelum memasuki White Bone Temple, pertarungan berdarah sudah tak terelakkan. Anggap saja itu sebagai penyisihan tahap pertama.”
“Sudah kusampaikan semua yang perlu kukatakan. Selebihnya, silakan kalian bicarakan sendiri.”
Usai berkata demikian, ia tak berlama-lama lagi. Ia berbalik dan melangkah masuk ke paviliun.
Keheningan menyelimuti Cloud Platform.
Baru beberapa saat kemudian, bisik-bisik perlahan kembali terdengar.
“Elder Ming bicara panjang lebar, tetapi pada dasarnya tidak mengatakan apa-apa—”
“Tidak juga. Setidaknya, sekarang kita tahu bahwa benda-benda di dalam sana tak boleh sampai jatuh ke tangan Hundred Races.”
“Semakin ia enggan menjelaskan, semakin mengerikan pula apa yang ada di dalam sana.”
Orang-orang saling bersahutan, mengutarakan pendapat masing-masing.
Namun, tak lama kemudian, arah pembicaraan mulai berubah.
Beberapa pemimpin regu sudah mulai menjajaki persekutuan.
Hua Ruogu menghampiri Chu Jinghong. Keduanya bertukar kata dengan suara rendah, lalu tampaknya mencapai kesepahaman tertentu.
Liu Wenxu mencari Shi Chongshan. Ia ingin menjalin persekutuan dengan Zhao Qingluan. Bagaimanapun, memiliki satu pilihan tambahan untuk menyelamatkan diri bukanlah hal buruk.
Suasana di sekitar Lian Chenghao bahkan lebih ramai. Sejak murid pewaris Many Treasures Immortal Sect itu menginjakkan kaki di Hundred Slayings Realm, semua orang berlomba-lomba menyanjung dan menariknya ke pihak mereka.
Hanya dalam waktu yang dibutuhkan sebatang dupa untuk terbakar habis, empat atau lima regu telah mengirimkan wakil untuk berbicara dengannya.
Chen Qing mengamati semua itu dengan dingin, tanpa berniat ikut meramaikan.
Meski umat manusia secara keseluruhan bersatu dalam satu tatanan besar, hati orang-orang di dalamnya tetap sulit diterka.
Bahkan mereka yang berasal dari wilayah langit dan Blessed Land yang sama pun belum tentu akur, apalagi orang-orang dari ranah langit yang berbeda.
Dalam perjalanan ke White Bone Temple kali ini, tak sedikit yang justru berharap orang lain mati di garis depan agar mereka bisa datang belakangan dan meraup hasilnya.
Ucapan Elder Ming tadi hanya membuat suasana semakin tegang.
Chen Qing enggan memikirkannya lebih jauh.
Ia baru saja menimbang kapan sebaiknya berangkat ketika dua sosok tiba-tiba berjalan menghampirinya.
Zhao Qingluan berada di depan, sementara Zhao Qizhi mengikuti di belakang.
Langkah Zhao Qingluan tenang, sorot matanya pun tak terusik. Ke mana pun ia melangkah, kerumunan dengan sendirinya menyibak untuk memberinya jalan.
“Fellow Daoist Chen.”
Zhao Qingluan berhenti di hadapan Chen Qing dan sedikit membungkuk memberi salam.
Chen Qing membalas dengan menangkupkan kedua tangan.
“Fairy Zhao.”
Dari belakang kakaknya, Zhao Qizhi melayangkan tatapan penuh arti kepada Chen Qing.
Tanpa berbasa-basi, Zhao Qingluan langsung menyampaikan maksud kedatangannya.
“Adikku tentu sudah membicarakannya denganmu. Kau juga sudah melihat sendiri keadaan reguku. Hari ini, aku ingin mengundangmu sekali lagi. Syaratnya tetap sama, dan masih bisa kita bicarakan lebih lanjut.”
Chen Qing berpura-pura menimbang sejenak, lalu memasang raut serbasalah.
“Terima kasih atas penghargaanmu, Fairy Zhao. Namun, aku sudah terbiasa bergerak sendiri. Aku sungguh tidak cocok bergabung dengan sebuah regu.”
Harapan di wajah Zhao Qizhi seketika berganti kekecewaan.
Bibirnya sempat terbuka, seolah hendak mengatakan sesuatu. Namun, pada akhirnya ia tetap diam.
Zhao Qingluan tidak tampak terlalu terkejut. Ia hanya mengangguk.
“Setiap orang punya jalan yang ingin ditempuhnya sendiri. Karena Fellow Daoist Chen tidak bersedia, tentu aku tidak akan memaksa.”
Sambil berkata demikian, ia mengeluarkan sebuah Communication Jade Slip dan menyodorkannya kepada Chen Qing.
“Mari bertukar tanda pengenal. Di Huntian Battlefield ini, memiliki satu orang lagi yang bisa saling membantu tentu bukan hal buruk.”
Chen Qing tidak menolak. Ia mengeluarkan Jade Slip miliknya, lalu menyentuhkannya perlahan pada milik Zhao Qingluan.
Secercah cahaya berkelebat. Tanda pengenal untuk berkomunikasi pun berhasil ditautkan.
Zhao Qizhi turut mengeluarkan Jade Slip miliknya dan mendekat. Padahal, ia sudah bertukar tanda pengenal dengan Chen Qing kemarin. Meski begitu, ia tetap menyentuhkan Jade Slip-nya sekali lagi, seakan takut Chen Qing akan melupakannya.
Setelah ketiganya selesai, Zhao Qingluan berbalik dan pergi bersama Zhao Qizhi.
Pemandangan itu tak luput dari perhatian banyak orang dan segera memicu kehebohan kecil.
“Zhao Qingluan mengundangnya secara langsung? Siapa pemuda itu?”
“Kau tidak tahu? Itulah Chen Qing, orang yang membantai habis Jin Chi Squad di Cangwu Ridge.”
“Peringkatnya di Primordial Spirit Ranking baru empat puluhan. Bisa mendapat undangan langsung dari Zhao Qingluan... luar biasa—”
Tak jauh dari sana, Meng Jian menyaksikan percakapan itu dengan sudut bibir sedikit terangkat.
“Menarik.”
Ia bergumam dengan nada geli.
Liu Qingli berdiri tepat di belakangnya. Alisnya yang lentik bertaut, jelas tak habis mengerti.
Itu regu Zhao Qingluan. Pemimpinnya menduduki peringkat ketiga dalam Human Race Primordial Spirit Ranking, membawahi begitu banyak ahli, dan memimpin salah satu dari hanya dua regu yang menempati Heaven Tier Platform.
Sekalipun mengesampingkan keuntungan lain, bergabung dengan regu itu saja sudah cukup untuk langsung mengangkat kedudukan dan pengaruh seseorang di medan perang.
Dengan sosok sekuat Zhao Qingluan sebagai pelindung, seseorang nyaris bisa bergerak tanpa hambatan—selama tidak berpapasan dengan monster-monster sejati dari kalangan Hundred Races.
Namun, Chen Qing justru menolak.
‘Apa sebenarnya yang dia pikirkan?’ Liu Qingli tak habis mengerti.
Sekuat apa pun seseorang, mustahil ia bisa menguasai segalanya seorang diri di Huntian Battlefield.
Tanpa regu yang saling mendukung dan garis belakang yang aman, seorang petarung pada akhirnya akan kewalahan jika dikepung dan diburu oleh Hundred Races. Sepasang tangan tak mungkin menangkis serangan dari segala penjuru.
Kecuali, tentu saja, jika Chen Qing masih menyimpan cukup banyak kartu as.
Liu Qingli meredam pikirannya yang berkecamuk dan berhenti mempersoalkan hal itu.
Di sisi lain Cloud Platform, Shen Cangming berjalan santai menghampiri Zhao Qingluan.
“Sepertinya upaya Fairy Zhao merekrut anggota baru gagal.”
“Setiap orang punya tujuan masing-masing.”
Jawaban Zhao Qingluan terdengar datar.
Shen Cangming menoleh ke arah kepergian Chen Qing.
Tentu saja ia pernah mendengar nama itu.
Pertempuran di Cangwu Ridge, ketika Chen Qing seorang diri membantai Jin Chi beserta sembilan petarung elite Golden Feather Race, memang sempat menggemparkan banyak orang. Namun, hanya sebatas itu.
Peringkat empat puluhan dalam Primordial Spirit Ranking mungkin sudah cukup untuk membuat seseorang dipandang sebagai tokoh terkemuka. Akan tetapi, bagi Shen Cangming, pencapaian itu belum istimewa.
Belum cukup untuk membuatnya benar-benar menaruh perhatian.
Namun, lain ceritanya jika Zhao Qingluan sampai turun tangan sendiri untuk mengundang orang itu.
“Di seluruh Southeast War Zone, tak banyak orang yang bisa membuat Fairy Zhao datang mengundang secara pribadi.”
Shen Cangming mengalihkan pandangan, lalu tersenyum.
“Terus terang, aku jadi sedikit penasaran.”
Zhao Qingluan mengabaikan nada menggoda dalam suaranya. Ia hanya melirik Shen Cangming dengan dingin sebelum memalingkan wajah.
“Ayo berangkat.”
Begitu kata-kata itu terucap, ujung kakinya menjejak ringan. Sosoknya menjelma menjadi seberkas cahaya yang melesat keluar dari pos pertahanan.
Bahkan udara seolah tersibak dengan sendirinya, memberi jalan bagi laju cahaya itu.
Zhao Qizhi dan yang lain bergerak nyaris bersamaan. Tujuh berkas cahaya melesat mengikuti pemimpin mereka.
Shen Cangming memandangi ketujuh berkas cahaya itu hingga lenyap di cakrawala, sembari memutar-mutar Red Copper Short Staff di telapak tangannya.
“Kita juga berangkat.”
Ia menoleh kepada regu di belakangnya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Shen Cangming menghentakkan kaki. Seberkas cahaya merah menyala membubung ke angkasa, laksana mentari cemerlang yang terbit dari permukaan bumi.
Para anggota regunya segera menyusul. Delapan berkas cahaya berpadu menjadi hamparan awan merah yang menyilaukan, membelah angkasa menuju arah yang sedikit menyimpang dari jalur regu Zhao Qingluan.
Kedua Heaven-Grade Squad itu pun telah meninggalkan pos pertahanan secara berurutan.
Di Cloud Platform, suasana berubah menjadi penuh perhitungan.
Wajar jika dua regu terkuat dan paling percaya diri bergerak lebih dahulu.
Namun, mereka yang tertinggal tidak lantas menyusul.
Hua Ruogu tetap berdiri di tempatnya, menatap jejak cahaya yang kian memudar dengan alis sedikit berkerut.
“Brother Hua, apa kita akan berangkat?”
Pertanyaan itu datang dari seseorang di belakangnya.
Hua Ruogu tidak langsung menjawab. Setelah merenung sejenak, barulah ia berbicara perlahan.
“Tunggu sebentar lagi.”
“Menunggu apa?”
Orang itu terdengar bingung.
“Menunggu kabar,” jawab Hua Ruogu lirih. “Sekarang Zhao Qingluan dan Shen Cangming sudah bergerak, Hundred Races pasti akan bereaksi. Biarkan mereka menjajaki keadaan terlebih dahulu. Kalau kita mengikuti dari belakang, kita mungkin tertinggal selangkah, tetapi akan jauh lebih aman.”
Diam-diam, regu-regu lain pun mengambil keputusan serupa.
Semua orang tahu bahwa peluang di White Bone Temple memang nyata, tetapi begitu pula bahayanya.
Masuk lebih dahulu berarti mendapat keunggulan awal, sekaligus menanggung risiko yang lebih besar.
Datang belakangan memang lebih aman. Namun, bisa jadi orang lain sudah lebih dahulu merebut peluang berharga di sana.
Sungguh pilihan yang sulit.
Setiap pemimpin regu harus menimbang sendiri di antara kedua pilihan itu.
Setelah keluar dari Huntian Pavilion, Chen Qing melihat sejumlah berkas cahaya melesat meninggalkan pos pertahanan.
Ia segera menyadari bahwa kedua regu itu telah berangkat lebih dahulu.
Seandainya belum menembus Fifth Heaven dalam ranah Primordial Spirit, mungkin Chen Qing masih akan berhenti sejenak untuk menimbang untung ruginya.
Namun kini, setelah mencapai Fifth Heaven, kekuatannya telah meningkat pesat.
Daripada terus berlindung di belakang sambil menunggu kabar, lebih baik ia mengambil inisiatif, mencapai White Bone Temple terlebih dahulu, lalu mengamati perkembangan situasi dari sana.
Saat Chen Qing masih tenggelam dalam pikirannya, jade slip di pinggangnya tiba-tiba bergetar.
Aura yang familier menguar dari benda itu.
Raut wajah Chen Qing seketika berubah serius.
“Ancestral Master!”
Akhir Chapter 859
💬Komentar (0)
Tinggalkan Balasan
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *