Pelahap Jiwa
Chen Qing memandang arus hitam di kejauhan.
Beberapa li darinya, seorang ahli manusia yang sedikit tertinggal tersapu tepian arus itu.
True Essence pelindung tubuhnya seketika hancur. Sesaat kemudian, daging dan darahnya mulai luruh, seolah ada sesuatu yang mengisap habis seluruh isinya.
Hanya dalam satu tarikan napas, ahli Primordial Spirit Fifth Heaven itu sudah mengerut menjadi jasad kering. Origin Spirit beserta seluruh dagingnya habis dilahap arus hitam.
Soul-Devouring Nether River!
Chen Qing pernah membaca nama itu di dalam jade slip pemberian Tu Tanhai.
Itulah kengerian yang hanya terdapat di bagian terdalam Dead Soul Valley. Keberadaannya semata-mata untuk melahap Origin Spirit serta daging dan darah makhluk hidup.
Siapa pun yang terseret ke dalamnya nyaris tak memiliki harapan untuk selamat.
Namun, setahunya, sungai itu selalu berada di dasar terdalam Dead Soul Valley dan tak pernah meluap keluar.
Kemunculannya di Falling Star Gorge jelas tidak wajar.
Tanpa berpikir panjang, Chen Qing mengerahkan Taixu Realm-Breaking Evasion hingga batas tertinggi, melesat menjauhi Soul-Devouring Nether River.
Jeritan demi jeritan terdengar di kejauhan.
Arus hitam bergemuruh di atas ngarai, meluap ke segala penjuru.
Setiap kali salah satu cabang arusnya menyapu lewat, satu atau dua ahli yang terlambat melarikan diri akan terseret ke dalam. Tubuh mereka mengering, lalu jasad yang tersisa pun segera ditelan hingga tak menyisakan apa-apa.
“Mengapa Soul-Devouring Nether River ada di Falling Star Gorge? Bukankah sungai itu selalu berada di kedalaman Dead Soul Valley?”
“Siapa yang tahu! Mula-mula White Bone Temple terbuka, lalu Hundred Races melakukan pembantaian, dan sekarang Soul-Devouring Nether River ikut meluap. Huntian Battlefield benar-benar sedang dijungkirbalikkan!”
Orang-orang berpencar dengan panik. Di tengah kekacauan itu, seberkas cahaya merah darah mendadak melesat dari kedalaman arus hitam.
Kecepatannya luar biasa. Dalam sekejap mata, cahaya itu telah menyusul seorang ahli manusia yang tengah melarikan diri.
Cahaya merah darah menembus tepat ke dadanya. Tubuh lelaki itu mendadak kaku di udara, lalu dagingnya menyusut dengan kecepatan yang terlihat jelas oleh mata. Dalam sekejap, ia tinggal kerangka dan terjun dari langit.
“Senior Brother Wang!”
Seorang rekannya yang berada di samping menjerit, matanya dipenuhi kengerian.
“Siapa itu?!”
Dari jarak beberapa li, Chen Qing menyaksikan semuanya dengan jelas. Hatinya mencelos.
Aura yang terpancar dari cahaya merah darah itu begitu pekat, jauh melampaui kemampuan kultivator Primordial Spirit realm biasa.
Kuat sekali!
Cahaya merah darah itu berhenti sejenak di udara, memperlihatkan wujud aslinya.
Sosok itu adalah seorang lelaki jangkung bertubuh ramping. Kulitnya berwarna kelabu kebiruan yang ganjil, melekat ketat pada tubuhnya seperti selapis kulit ular. Penampilannya sungguh menyeramkan.
Matanya sipit dan menyorong ke atas. Jubah merah darahnya berkibar diterpa angin, sementara ujungnya terus meneteskan darah kental. Tetes-tetes darah itu berubah menjadi kabut begitu jatuh di udara, lalu terserap kembali ke dalam tubuhnya.
Gerak-geriknya luar biasa ganjil. Sesaat ia berwujud utuh, sesaat kemudian tubuhnya buyar menjadi kabut darah. Setiap kali sosoknya berkelebat, seorang ahli meregang nyawa.
“Celaka! Cepat lari! Itu Han Xiao dari Blue Blood Clan!”
Seseorang telah mengenali identitasnya.
“Benar-benar dia! Setahun lalu dia sudah mencapai Hundred Slayings Realm. Mengapa sampai sekarang dia belum menembus Dharma Aspect Realm?”
“Dia sedang memperkuat fondasinya! Kudengar dia tak mau menerobos sebelum mengumpulkan tiga ratus pembunuhan. Orang gila! Dia benar-benar orang gila!”
“Cepat! Berpencar!”
Di tengah teriakan panik, semua orang melarikan diri ke segala arah, bak burung yang ketakutan hanya karena mendengar denting tali busur.
Mendengar percakapan itu, benak Chen Qing terusik.
Blue Blood Clan menduduki jajaran teratas di antara Hundred Races.
Adapun Han Xiao adalah salah satu dari segelintir ahli terkuat di kalangan generasi muda Blue Blood Clan. Setahun silam, ia sudah mencapai Hundred Slayings Realm.
Hundred Slayings Realm merupakan sebuah titik pembeda yang besar. Begitu seorang kultivator memasukinya, nilai jasa militernya akan melonjak tajam, menjadikannya buruan yang amat menggiurkan bagi ras-ras musuh.
Mereka yang sanggup bertahan hidup setelah mencapai Hundred Slayings Realm, tanpa terkecuali, adalah para veteran yang telah melewati pertempuran tak terhitung banyaknya.
Namun, Han Xiao bukan sekadar bertahan hidup. Ia bahkan masih leluasa mengejar tiga ratus pembunuhan. Dari situ saja sudah terlihat betapa mengerikan kekuatannya.
Setelah membunuh beberapa orang berturut-turut secepat kilat, tanpa memberi mereka kesempatan bereaksi, Han Xiao melihat Chen Qing yang tengah melarikan diri di kejauhan.
“Primordial Spirit Fourth Heaven... daya hidupnya cukup padat. Santapan darah bermutu tinggi.”
Han Xiao menjilat bibir, lalu berubah menjadi seberkas cahaya merah darah dan melesat ke arah Chen Qing.
Dalam sekejap, jarak di antara mereka menyusut hingga tinggal seribu zhang.
Dari atas, Han Xiao menatap Chen Qing sebelum menghantamkan telapak tangan kanannya ke bawah dengan ganas.
Bum!
Sebuah telapak tangan raksasa dari es membeku terbentuk di udara. Seluruh bagiannya berwarna kelabu kebiruan, dengan pola-pola merah darah yang ganjil memenuhi bagian tengahnya.
Telapak raksasa itu menaungi area seluas beberapa ratus zhang. Bahkan udara di sekitarnya terus membeku, membentuk kristal-kristal es putih yang terlihat jelas.
Blue Blood Mysterious Ice Palm!
Itulah salah satu seni sejati Blue Blood Clan, yang memadukan seni rahasia bawaan ras mereka dengan kekuatan dingin ekstrem. Belum lagi hantaman telapaknya tiba, hawa dinginnya sudah lebih dahulu menyergap, sanggup membekukan True Essence sekaligus daya hidup lawan.
Seorang ahli Primordial Spirit Fifth Heaven biasa yang terjebak dalam hawa dingin itu sudah terbilang beruntung jika masih mampu mengerahkan separuh hingga enam persepuluh kekuatan penuhnya.
Chen Qing merasakan daya hidupnya tersendat. Aliran True Essence di dalam tubuhnya pun mulai melambat.
Sungguh energi dingin yang ganjil.
Jika seorang ahli penempaan tubuh biasa menghadapi serangan telapak itu, tenaga vitalnya akan membeku dan gerakannya melambat. Ia hanya bisa pasrah dipermainkan lawan.
Namun, Chen Qing berbeda.
Di dalam nadinya mengalir darah esensi Zhu Jiuyin, salah satu binatang buas purba.
Mata Chen Qing menyipit. Tenaga vital yang membara dan dahsyat meledak dari tubuhnya, laksana gunung api yang meletus.
Nyala merah keemasan menyembur dari titik-titik akupunkturnya. Dalam sekejap, hawa beku di sekelilingnya menguap menjadi kepulan kabut putih yang pekat.
Bersamaan dengan itu, ketiga puluh tiga meridian dalam tubuhnya bergemuruh serentak. Chen Qing mengerahkan Hunyuan Hell-Suppressing Scripture hingga batas tertinggi. Aura yang seakan sanggup menindas langit dan bumi memadat menjadi sesosok bayangan raksasa di belakangnya.
Berkepala naga dan bertubuh gajah, sosok itu menginjak kehampaan sambil mengaum ke langit.
Chen Qing menghentakkan kaki kanannya keras-keras di udara. Gelombang kejut putih meledak dari bawah telapak kakinya. Alih-alih mundur, ia justru melesat maju dan melontarkan tinju lurus ke arah Blue Blood Mysterious Ice Palm.
Primordial Limitless Dragon Catching Hand! Dragon-Seizing Mountain-Crushing!
Aura tinjunya merobek udara, lalu menjelma menjadi bayangan cakar naga raksasa.
Cakar itu seluruhnya berwarna merah keemasan. Kelima jarinya melengkung bagai kait, dengan kuku-kuku tajam yang mengoyak kehampaan. Membawa kekuatan mengerikan, cakar itu menghantam Blue Blood Mysterious Ice Palm dengan ganas.
Duar!
Langit dan bumi seolah terhenti sesaat ketika tinju dan telapak beradu.
Detik berikutnya, cahaya menyilaukan meledak dari pusat benturan, diiringi gemuruh bertubi-tubi yang memekakkan telinga.
Gelombang kejut menyapu ke segala penjuru. Awan dan kabut dalam jangkauan seribu zhang lenyap seketika. Batu-batu pecah di permukaan tanah tersapu pusaran udara, lalu terlontar ke segala arah bagai hujan badai.
Kedua serangan itu hanya bertahan seimbang selama satu tarikan napas.
Di bawah tatapan terkejut Han Xiao, retakan mulai menjalar di permukaan Blue Blood Mysterious Ice Palm. Retakan itu meluas dengan cepat, hingga telapak raksasa tersebut meledak dan pecah menjadi serpihan es yang memenuhi langit.
Sisa aura tinju menerobos hujan serpihan es dan terus menghantam ke arah Han Xiao.
Alis Han Xiao berkedut tipis. Ia mengibaskan lengan bajunya, memanggil sebuah perisai merah darah untuk menahan sisa kekuatan tinju itu.
Tubuhnya melayang mundur beberapa zhang. Cahaya darah berkelebat di bawah kakinya, membuatnya kembali berpijak mantap di udara. Kilatan ketertarikan muncul di matanya.
“Limitless Dao?”
Hanya dengan sekali pandang, ia telah mengenali dasar serangan Chen Qing.
Tinju itu jelas berasal dari metode Limitless Dao.
Namun, setelah ia mencermatinya lebih jauh, kehendak di balik serangan itu tampak bercampur dengan sesuatu yang sama sekali berbeda.
Secercah keraguan pun muncul dalam benak Han Xiao.
Ia pernah bertemu beberapa pewaris Limitless Dao, tetapi baru kali ini ia melihat seseorang mengembangkan metode mereka hingga memiliki corak yang begitu khas.
“Menarik.”
Han Xiao menyeringai dingin, lalu menyentakkan lengan bajunya.
Duar!
Arus hitam di belakangnya bergolak, menjelma menjadi gelombang pasang raksasa yang kembali menyapu ke arah Chen Qing.
Gelombang hitam itu membentang tanpa tepi, nyaris menutupi separuh langit.
Di dalamnya terbenam serpihan jiwa orang mati yang tak terhitung jumlahnya. Dendam yang mereka pancarkan begitu menusuk, dinginnya seolah meresap hingga ke tulang.
Inilah seni rahasia yang dikembangkan Han Xiao setelah bertahun-tahun menempa diri di Soul-Devouring Nether River. Dengan True Essence miliknya sebagai pemicu, ia dapat mengendalikan air sungai itu untuk kepentingannya sendiri.
Meski tidak semengerikan Soul-Devouring Nether River yang sesungguhnya, kekuatan gelombang hitam tersebut tetap luar biasa.
Siapa pun yang terseret ke dalamnya akan dicabik dan dilahap serpihan-serpihan jiwa itu, baik raga maupun Origin Spirit-nya. Kematian yang menanti mereka akan sangat menyiksa dan mengenaskan.
Kening Chen Qing berkerut.
Jangkauan serangan itu terlalu luas. Dengan jarak perpindahan Taixu Realm-Breaking Evasion yang terbatas, mustahil baginya untuk menghindar sepenuhnya.
Ia membalik telapak tangan dan mengeluarkan Heavenly Treasure Tower. Great Void True Essence terus-menerus dialirkannya ke dalam pagoda itu.
Dengung!
Heavenly Treasure Tower seketika membesar menjadi pagoda raksasa setinggi puluhan zhang. Selapis cahaya hitam muncul di permukaannya. Pagoda itu menjulang kukuh, tak tergoyahkan laksana gunung suci dari zaman purba.
Pusaran hitam di dasar menara berputar kencang, melepaskan daya isap mengerikan yang menyedot seluruh gelombang hitam ke dalam pagoda.
Heavenly Treasure Tower bergetar pelan saat kedua kekuatan itu berbenturan sengit.
Tepat ketika Chen Qing dan Han Xiao saling menahan serangan, seberkas cahaya pedang mendadak berkelebat di cakrawala.
Cahaya pedang itu luar biasa tajam. Laksana bulan dingin yang jatuh dari Nine Heavens, cahaya itu menebas lurus ke ubun-ubun Han Xiao.
Bahkan sebelum tebasannya tiba, Qi pedang yang menusuk telah lebih dahulu merobek sebuah celah tipis di kehampaan.
Han Xiao menyentakkan tangan kanannya ke langit. Seberkas cahaya darah melesat naik dan menghantam cahaya pedang dengan ganas.
Duar!
Cahaya pedang dan cahaya darah meledak bersamaan, berhamburan menjadi puluhan ribu percikan.
Tubuh Han Xiao bergoyang. Ia mundur setengah langkah.
Suara seorang perempuan yang dingin dan jernih terdengar di telinga Chen Qing.
“Lari! Kau bukan tandingannya!”
Chen Qing mendongak dan melihat sesosok perempuan bertubuh ramping melayang di udara. Di tangannya tergenggam sebilah pedang panjang, dengan kilau samar cahaya bulan yang beriak di sepanjang bilahnya.
Wajah perempuan itu elok. Ia mengenakan gaun kemerahan bagai awan senja, dengan kelim yang berkibar liar diterpa angin.
Melalui Divine Sense-nya yang tajam, Chen Qing merasakan satu aura lagi tengah mendekat dengan cepat dari kejauhan.
“Terima kasih!”
Chen Qing berseru dengan suara rendah. Tenaga vital dalam tubuhnya kembali bergolak dahsyat, sementara kobaran merah keemasan di sekelilingnya membubung ke langit.
Ia melangkah maju. Tinju kanannya dipenuhi daya perkasa Hunyuan Hell-Suppressing Scripture, lalu dihantamkannya dengan ganas.
Pada saat yang sama, perempuan berpedang itu menebas sekuat tenaga.
Cahaya putih keperakan menjelma menjadi sinar pedang sepanjang puluhan zhang. Dengan ketajaman yang seolah mampu membelah apa pun, serangan itu meluncur ke arah Han Xiao.
Kedua serangan berpadu menjadi satu—yang satu keras, yang lain lentur; yang satu mendominasi, yang lain tajam tak tertandingi.
Han Xiao membentuk segel tangan. Seketika, sebuah dinding kristal raksasa berwarna merah darah memadat di hadapannya.
Duar!
Aura tinju dan sinar pedang menghantam dinding kristal secara bersamaan. Dentuman dahsyat mengguncang langit dan bumi.
Dinding kristal merah darah itu bergetar hebat. Retakan menjalar di seluruh permukaannya, membentuk jaring laba-laba.
Daya benturan mengempaskan Han Xiao sejauh belasan zhang. Saat ia berhasil menstabilkan tubuh dan mendongak, Chen Qing dan perempuan berpedang itu sudah lenyap di balik cakrawala.
“Danxia Heaven, Phoenix Terrace.”
Han Xiao mengenali asal-usul tebasan tadi. Keningnya sedikit berkerut.
Phoenix Terrace dari Danxia Heaven merupakan salah satu faksi yang sangat termasyhur di Nine Heavens. Teknik pamungkas sekte itu, Phoenix Nirvana Scripture, adalah metode kultivasi kelas puncak yang namanya tersohor di seluruh dunia.
Di antara generasi muda Phoenix Terrace, Zhao Qingluan menggetarkan Huntian Battlefield dengan kedudukannya di peringkat ketiga Primordial Spirit Ranking. Penguasaannya atas Qingluan Heaven Burning Art begitu mengerikan dan mendominasi. Entah sudah berapa banyak genius luar biasa dari Hundred Races yang menemui ajal mengenaskan di bawah pedangnya.
Ilmu pedang perempuan tadi jelas memiliki ciri khas Phoenix Terrace. Hanya saja, penguasaannya masih belum mencapai kesempurnaan seperti Zhao Qingluan.
Tepat saat itu, semburan cahaya keemasan yang dahsyat meledak di ujung cakrawala.
Sinarnya begitu menyilaukan, laksana matahari membara yang terbit dari balik kaki langit. Separuh angkasa pun tersaput warna emas.
Dari dalam cahaya itu, sesosok tubuh melangkah keluar.
Ia adalah seorang lelaki kekar dari Golden Feather Race. Tingginya lebih dari satu zhang, dengan bahu bidang dan punggung lebar. Zirah bulu emas yang membalut tubuhnya berkilauan diterpa cahaya.
Sepasang sayap emas terbentang selebar beberapa zhang di punggungnya. Setiap helai bulunya diselubungi pendar emas gelap yang beriak.
Lelaki itu tak lain adalah Jin Lingdu dari Golden Feather Race.
Melihat pendatang itu, Han Xiao menyapanya dengan nada datar.
“Kukira siapa. Ternyata Brother Jin.”
Hubungan kedua ras mereka memang tidak bisa dibilang baik, tetapi juga belum sampai bermusuhan.
Dalam keadaan biasa, Golden Feather Race dan Blue Blood Clan menjalankan urusan masing-masing tanpa saling mencampuri. Sekalipun sesekali terjadi gesekan, mereka tidak akan sampai menyatakan permusuhan secara terbuka.
Ditambah lagi, kekuatan Jin Lingdu sendiri amat besar. Karena itulah Han Xiao tidak langsung menyerang.
Jin Lingdu melirik dingin ke arahnya.
“Di mana dia?”
Suaranya rendah, menyimpan amarah yang tertahan.
“Siapa?”
Han Xiao pura-pura tidak tahu. Terselip nada geli dalam suaranya.
“Orang yang baru saja bertarung denganmu.”
Tatapan Jin Lingdu terpaku pada Han Xiao.
“Sudah kabur.”
Han Xiao mengangkat bahu dengan sikap acuh tak acuh.
Mendengar jawaban itu, wajah Jin Lingdu seketika mengeras.
Dalam pertempuran di Cangwu Ridge, kesepuluh petarung elite di bawah komandonya telah tewas di tangan Chen Qing. Bahkan Jin Chi, saudara satu klannya, pun tidak luput.
Ia sendiri mengejar sampai ke tempat ini demi mencabik-cabik Chen Qing menjadi berkeping-keping dan melampiaskan kebencian dalam hatinya.
Namun sekarang, orang itu justru berhasil lolos.
Melihat perubahan raut wajah Jin Lingdu, senyum tersungging di bibir Han Xiao.
“Oh? Jangan-jangan dialah bocah manusia yang membuatmu kehilangan muka itu?”
Kabar tentang kerugian besar yang diderita Golden Feather Race di Cangwu Ridge sudah lama tersebar ke seluruh Primordial Spirit Battlefield melalui berbagai saluran.
Para petarung elite Jin Lingdu dibantai habis oleh seorang kultivator manusia yang baru berada di Primordial Spirit Fourth Heaven, sementara tubuh Jin Chi dihancurkan seketika. Peristiwa itu telah menjadi bahan olok-olok banyak ahli dari Hundred Races di sela jamuan mereka.
Tentu saja, Han Xiao termasuk di antara mereka yang menertawakannya.
Jin Lingdu menatap Han Xiao lekat-lekat. Kobaran api emas di dalam pupilnya menari kian ganas.
Namun, pada akhirnya ia tetap tidak menyerang.
Bertarung melawan Han Xiao tidak ada gunanya. Sekalipun menang, ia pasti harus membayar harga yang mahal.
Menderita luka parah di Huntian Battlefield sama saja dengan mencari mati.
Jin Lingdu berkata dingin.
“Sebaiknya kau cemaskan dirimu sendiri. Terakhir kali, Yuan Mie memang gagal membunuhmu, tetapi kali ini belum tentu kau akan seberuntung itu. Dia sudah tiba di sekitar White Bone Temple.”
Begitu mendengar nama Yuan Mie, raut wajah Han Xiao berubah drastis.
Blue Blood Clan selalu berada di bawah penindasan Yuan Race. Hal itu sudah menjadi rahasia umum di Huntian Battlefield.
Tak terbantahkan lagi, Yuan Race merupakan salah satu klan bangsawan di antara Hundred Races. Mereka memiliki landasan kekuatan yang amat kukuh, dengan jajaran ahli yang tak terhitung banyaknya.
Sementara itu, Yuan Mie adalah genius paling mengerikan dari generasi muda Yuan Race. Kedalaman kultivasinya sukar diukur, dan ia menempati posisi atas dalam jajaran lima ahli Primordial Spirit terkuat di antara Hundred Races.
Dalam pertemuan terakhir mereka, Han Xiao nyaris tewas di tangannya. Pertempuran itu membuatnya kehilangan separuh nyawa.
“Brother Jin tak perlu mengkhawatirkanku.”
Senyum di wajah Han Xiao telah lenyap. Nada suaranya berubah dingin dan kaku. Ia lalu berbalik, melesat pergi dalam seberkas cahaya merah darah.
Jin Lingdu menatap sosok yang menjauh itu, lalu mendengus dingin. Sepasang sayap emasnya mengepak, mengubah tubuhnya menjadi seberkas cahaya keemasan yang melesat ke arah lain.
Akhir Chapter 854
💬Komentar (0)
Tinggalkan Balasan
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *