Stolen Thunder
'Bunuh, bunuh...'
Mengulang-ulang kata itu dalam benaknya, Sunny berjuang mati-matian untuk tetap hidup saat Vile Thieving Bird menyerangnya dengan badai serangan yang memorak-porandakan. Dia menggunakan kata itu untuk menjaga kewarasannya—atau lebih tepatnya, untuk mendorong dirinya ke dalam jenis kegilaan yang tepat.
Kegilaan pertempuran yang menguasai pikiran orang-orang yang menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam dunia pertarungan yang kejam, melangkah masuk ke dalam suatu kondisi yang melampaui fokus kejernihan biasa.
Sebuah kondisi pikiran yang begitu jernih hingga memusnahkan segala hal dan konsep yang tidak memiliki sangkut paut dengan satu tujuan mutlak: membunuh sang lawan.
Rasa sakit luar biasa yang sedang dideritanya justru sangat membantu dalam hal tersebut. Rasa sakit itu menyapu bersih sebagian besar hal yang berpotensi menghambat jalannya pertarungan, hanya menyisakan tekad liar dan hewani untuk menghancurkan sumber penderitaan itu sendiri.
Vile Thieving Bird.
Sunny tak kuasa menahan raungan menggelegar saat cakar-cakar monster itu merobek pinggangnya. Dia menggertakkan gigi ketika paruhnya menghancurkan sebagian bahunya. Dia mengerang saat sayapnya menghantam dadanya, dengan bulu-bulu hitam yang menyayat tubuhnya bagaikan bilah silet.
Jade Mantle terkoyak-koyak layaknya kertas...
Jiwanya juga ikut terkoyak.
Jiwanya telah menderita begitu banyak kerusakan—namun, untungnya, ia masih sanggup menahan kerusakan berkali-kali lipat lebih banyak.
Sunny perlahan menyadari bahwa keberuntungan sebenarnya sedang berpihak padanya dalam pertarungan mengerikan ini. Dia mengetahuinya karena Vile Thieving Bird hanya menggunakan paruh, cakar, serta kegilaannya yang tak terbatas untuk menghancurkannya—meskipun makhluk itu mampu melakukan hal yang jauh lebih mengerikan.
Makhluk itu sanggup mencuri Aspect miliknya, misalnya. Ia bisa mencuri tekad atau akal sehatnya. Ia bahkan bisa mencuri sesuatu yang aneh, seperti kemampuannya membedakan antara kanan dan kiri, atau ingatannya tentang mempelajari ilmu pedang.
Makhluk itu bahkan bisa mencuri keahliannya sebagai seorang pejuang dan menggunakannya sendiri.
Akan tetapi, monster itu tidak melakukannya.
Bukan karena Sunny cukup kuat untuk menolaknya, melainkan semata-mata karena...
'Aku bahkan tak habis pikir.'
Murni karena Vile Thieving Bird menyukai benda-benda berkilau, dan sama sekali tidak ada yang berkilau dari diri Sunny. Nyatanya, segala hal tentangnya adalah kebalikan dari berkilau—gelap, tanpa cahaya, dan suram—sehingga Thieving Bird sama sekali tidak tertarik untuk merenggut bagian mana pun darinya. Pikiran itu benar-benar tidak pernah terlintas di dalam benaknya yang gila.
Jadi, dalam arti tertentu, Sunny adalah lawan terburuk yang bisa dihadapi oleh Terror menjijikkan itu. Itulah alasan mengapa dia berhasil bertahan hidup begitu lama sembari menahan amukan sang Cursed Terror.
Kendati demikian, dia tidak akan bisa bertahan hidup selamanya, dan Nephis belum menghasilkan kerusakan yang cukup pada Vile Thieving Bird untuk membunuhnya sebelum Sunny hancur seutuhnya. Ini berarti Sunny harus segera meninggalkan tarian menghindarnya dan beralih melancarkan serangan.
Dan Nephis harus mulai bertindak serius untuk memberikan hukuman sebanyak mungkin kepada Cursed Terror itu, mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya ke dalam pertarungan tanpa menoleh ke belakang.
Untuk saat ini—hanya untuk beberapa saat lagi—mereka sedang menguji batas dari Will dan vitalitas Vile Thieving Bird, mencari cara agar serangan pemungkas mereka memberi dampak yang menentukan. Menunggu saat yang tepat.
Dan tak lama kemudian, momen itu akhirnya tiba...
Atau lebih tepatnya, tercipta sebuah kesempatan yang mereka berdua rasa merupakan kesempatan terbaik yang bisa mereka peroleh.
Saat jiwa Sunny menerima luka mengerikan lainnya, sesosok wujud raksasa jatuh dari langit dan melesat cepat membentuk bulan sabit di sekeliling Cursed Terror, menebaskan seribu kaki mirip sabitnya ke arah makhluk tersebut.
Sosok itu adalah Serpent, yang terluka dan berdarah, setelah mengambil wujud Ember Queen—sang Great Tyrant yang pernah menguasai Black Millipedes di masa lalu.
Ember Queen bukanlah wujud paling mematikan di antara bentuk-bentuk yang bisa diambil oleh Serpent, tetapi wujud itulah yang paling lincah dan sulit ditangkap, berada di antara momen masa kini dan masa depan. Mengingat Serpent sudah terluka parah dan menghadapi lawan yang dapat menghancurkannya dengan mudah, pertahanan jauh lebih penting baginya saat ini daripada kekuatan serangan murni.
Namun, Serpent bukanlah satu-satunya yang bergabung dalam pertarungan melawan Vile Thieving Bird. Sunny telah mengulur cukup banyak waktu bagi Ananke untuk menumpas habis seluruh bayangan yang dicuri.
Maka, pertama-tama, sebatang anak panah hitam tiba-tiba menembus jalinan dunia dan menancap di salah satu mata Thieving Bird, kekuatan benturannya membuat kepala makhluk itu terhuyung. Itu adalah Slayer yang melepaskan tali busurnya.
Pada saat yang sama, seorang kesatria menjulang tinggi dengan zirah yang tampak ditempa dari batu giok hitam menghantam sisi Cursed Terror. Perisainya memicu gelombang kejut yang dahsyat.
Jaring sutra perak yang sangat luas jatuh dari atas, menjerat Nightmare Creature yang mengerikan itu. Setiap helai benangnya mencengkeram dan mengiris kulitnya bagai kawat berduri.
Thieving Bird terhenti selama sepersekian detik... Dan saat gerakannya melambat, terguncang sesaat oleh serangan tiga sosok Supreme, longsoran shade melemparkan diri ke arahnya, membanjirinya dari segala sisi.
Seolah-olah gelombang kegelapan bertubrukan dengan Thieving Bird, mengancam untuk menguburnya di bawah himpitan para prajurit bisu. Para shade itu terlalu lemah untuk bertahan hidup dalam pertempuran melawan Cursed Terror. Jadi, mereka melancarkan serangan bunuh diri ini demi menimbulkan kerusakan sebanyak mungkin dalam waktu singkat, sebelum semuanya dimusnahkan oleh Thieving Bird.
Namun, dalam beberapa saat sebelum hal itu terjadi...
Terror yang menjijikkan itu berada di titik terlemahnya. Will miliknya tidak lagi terfokus, terpecah dan menipis demi menekan semua musuhnya—tiga Supreme, Saint dan Slayer, serta sepasukan shade—ke tanah.
Itulah saat yang dipilih Nephis untuk melancarkan serangan paling mematikannya, sekaligus titik tanpa jalan kembali bagi mereka semua.
Tinggi di angkasa, sosok bercahaya Changing Star, sang Star of Ruin, tiba-tiba berkobar dengan pancaran cahaya yang membutakan...
Itu adalah Nephis yang meledakkan semua soul core miliknya yang tersisa, menyisakan satu saja.
Dia memanggil True Names of Fire and Destruction, serta membisikkan True Names yang tidak diketahui Sunny—dan dilarang untuk diketahuinya—untuk memusnahkan dewa yang jatuh di bawahnya. Untuk membersihkan Corruption traumatis makhluk itu dari dunia.
Estuary Lake sesaat tenggelam dalam cahaya putih yang menyilaukan, berubah menjadi jurang putih tanpa batas.
Kemudian, pilar raksasa api putih jatuh dari kedalaman jurang itu, menelan Thieving Bird seutuhnya.
Shade milik Sunny—yang belum sempat dihancurkan oleh Terror menjijikkan itu—musnah seketika.
Jaring yang ditenun Ananke berubah menjadi abu. Saint berlindung di balik perisainya, dengan permukaan gelapnya yang mulai berpijar oleh kilau putih yang garang. Sunny menutupi wajahnya, merasakan gelombang kobaran api yang membakar menghantam tubuhnya yang terkoyak bagai air bah.
Dia sempat dibutakan selama beberapa saat, dan ketika penglihatannya kembali...
Dia melihat Vile Thieving Bird diselimuti kobaran api, bulu-bulunya terbakar bagai rumput kering. Api itu menghanguskan kulit dan dagingnya, memaksanya membuka paruh dan menjerit kesakitan.
'Giliranku.'
Sunny bersiap untuk melesat dan melancarkan satu serangan pamungkas yang menghancurkan.
Namun, sebelum dia sempat melepaskannya, Vile Thieving Bird berkaok keras dan membubung ke angkasa.
Kepakan sayapnya yang terbakar menimbulkan badai topan, menghempaskan Saint dan Ananke hingga terpelanting ke tanah. Sunny tertinggal di bawah, sementara terror menjijikkan itu melesat ke arah Nephis yang melayang di udara, dengan sayap bercahayanya yang bersinar lebih terang daripada matahari-matahari yang dicuri.
Thieving Bird terbang semakin tinggi, seolah berniat menelan Nephis bulat-bulat. Namun, sebelum makhluk itu berhasil melakukannya, Nephis melepaskan batasan dari Transformation parsial miliknya, dan mengambil wujud aslinya—gumpalan api putih raksasa yang ganas.
Dia turun menerjang Thieving Bird bagaikan malapetaka, menyelubungi tubuh makhluk itu dalam selubung api putih pemusnah.
Thieving Bird menjerit sekali lagi... Dan melipat sayapnya, menukik tajam menuju Estuary Lake bagaikan komet yang mengerikan.
Mata Sunny menyipit.
'Air.'
Dia paham apa yang hendak dilakukan Thieving Bird—makhluk itu mencoba menyelam ke dalam air untuk memadamkan api yang memanggangnya hingga gosong.
Dia menggeram dan menerjang ke depan.
‘Tidak semudah itu!’
Makhluk terkutuk itu tidak akan dibiarkan lolos darinya.
Hanya sepersekian detik sebelum Vile Thieving Bird dan Nephis menghantam permukaan danau, Sunny melompat ke depan dan mencengkeram leher monster burung itu. Kemudian, mereka bertiga menembus lapisan tebal obsidian terwujud dan tercebur ke dalam danau... Estuary Lake.
Danau waktu yang agung.
Dan saat dua Supreme Titans serta satu Cursed Terror saling bertarung di kedalamannya, waktu pun hancur berkeping-keping.
Waktu itu pecah, dan Vile Thieving Bird—beserta Sunny dan Nephis—tiba-tiba lenyap di antara kepingan-kepingan tersebut.
Jatuh melintasi waktu bagaikan komet gelap.
Akhir Chapter 2960
💬Komentar (0)
Tinggalkan Balasan
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *