Returning to the Estuary
Jantung Estuary berada di luar sana, tepat di depan mereka, menjulang di dalam kegelapan tanpa batas bagaikan monumen hitam bagi pertempuran mengerikan yang pernah diperjuangkan Ariel melawan Stone Titan.
Kali pertama, Sunny hanya terseret ke sini oleh arus setelah mengikuti Guiding Light menembus kabut. Pusaka suci para sybil tersebut bisa memandu pemiliknya ke mana pun—atau lebih tepatnya, kepada siapa pun. Asalkan orang itu mengetahui True Name mereka.
True Name yang memungkinkan Sunny mencapai jantung Estuary telah ditanamkan ke dalam ingatan Cassie oleh Torment, dan kemudian dihapus dari benak Cassie begitu dia menyalurkannya ke dalam Guiding Light. Nama itu harus dihapus karena Cassie tidak akan sanggup menanggung pengetahuannya lebih dari beberapa detik... setidaknya tidak pada saat itu.
Selama Nightmare, baik Sunny maupun Cassie tidak tahu nama siapa yang telah diwariskan Torment kepada mereka. Namun bila dipikir-pikir kembali... itu pasti merupakan True Name dari Cursed Terror yang telah bersarang di jantung Estuary—nama sang Thieving Bird.
Mengetahui nama Cursed Terror saja sudah cukup untuk menanam benih Corruption ke dalam jiwa seorang Ascended, asalkan mereka mengingatnya selama lebih dari beberapa detik. Bahkan, bertahan selama beberapa detik itu saja sudah merupakan pencapaian ajaib dari pihak Cassie.
‘Torment...’
Meskipun sosok Plague yang mengerikan itu sudah lama mati—atau lebih tepatnya tidak pernah benar-benar ada, sama seperti Mad Prince yang hanya pernah eksis di dalam Nightmare—dan tidak bisa kembali untuk menghantuinya, Sunny masih merasa tidak tenang setiap kali memikirkannya.
Torment mengetahui tak terhitung banyaknya hal yang bahkan tidak diketahui Sunny, dan membawa semuanya bersamanya ke liang lahat.
Bagaimanapun, hari ini, Sunny tidak membutuhkan Guiding Light untuk menemukan jantung Estuary. Lagi pula kabutnya sudah lenyap, begitu juga dengan riak air yang bergolak. Alhasil, bangunan batu megah dari sumber Great River tersebut terungkap dalam segala keagungannya yang menciutkan nyali, tersembunyi di dalam kegelapan, dan mereka hanya perlu mengemudikan kapal ke arahnya.
Berkat itu, Sunny bisa melihat jantung Estuary jauh lebih jelas daripada saat berada di Nightmare.
Mereka bertiga—Sunny, Nephis, dan Ananke—tetap terdiam, memandangi bola hitam raksasa itu dalam keheningan yang mencekam.
'...Huh.'
Estuary memiliki bentuk yang tidak beraturan dan hanya bisa secara kasar disebut sebagai bola. Sebenarnya, bentuknya lebih menyerupai elips, atau bahkan mungkin piramida terbalik dengan tepi-tepi yang membulat. Beberapa gunung tinggi dengan bentuk aneh mencuat dari permukaannya, puncak-puncaknya menganga dengan lubang gelap bagaikan kawah gunung berapi.
Bentuk itu tampak sulit digambarkan, namun sebenarnya dapat disampaikan dengan mudah hanya dalam satu kata.
Jantung Estuary—dan karenanya, jantung dari seluruh Tomb of Ariel—berbentuk... seperti sebuah jantung. Itu adalah jantung raksasa yang terbuat dari batu hitam. Gunung-gunung tersebut merupakan aorta, dan Great River dulunya mengalir melewatinya bagaikan darah.
Yang memang pernah menjadi darah pada masanya.
Sunny sempat mengira bahwa Estuary dibentuk dari jantung Stone Titan, tetapi tidak pernah menyangka bahwa kemiripannya akan seharfiah ini.
'Bajingan gila.'
Ariel, sang Demon of Dread, benar-benar telah merenggut jantung seekor Unholy Titan dan menggunakannya untuk menciptakan River of Time miliknya yang mustahil, di dalam piramida yang dibangun dari jasad Titan tersebut.
"Kita sudah sampai."
Suaranya menggema di dalam kegelapan, membuat Nephis dan Ananke bergerak gelisah. Ananke terdiam cukup lama, lalu tersenyum getir.
"Jadi di sinilah Aletheia datang mencari kebenaran. Inilah yang dia temukan... tempat lahirnya kutukan yang menghantui dan menghancurkan bangsaku."
Sunny menatapnya, terdiam sejenak, lalu mengangguk.
"Ya. Tapi tidak sesederhana itu juga."
Dia memandang ke depan, ke arah kemegahan gelap jantung Unholy One yang telah mati, lalu menghela napas.
"Aletheia tidak mencari sembarang kebenaran. Dia mencari kebenaran tentang bagaimana cara membunuh para dewa—dan dia menemukannya di sini, di kuburan rahasia yang sengaja dikubur oleh Ariel. Jadi, bukan hanya kutukan yang menghancurkan bangsamu saja yang lahir di sini... melainkan kutukan agung yang menghancurkan seluruh dunia."
Dia terdiam sesaat, lalu menambahkan dengan khidmat:
"Di sinilah Doom War benar-benar dimulai. Tempat benihnya ditanamkan ke tanah yang subur."
Dan tempat kutukan pribadinya juga mulai berakar.
Senyum getir pun turut tersungging di bibir Sunny.
"Daratan kapalnya. Tapi hadapkan bagian bawahnya ke arah batu terlebih dahulu... hukum keberadaan bekerja dengan aneh di sini."
Saat Time Slayer mendekati jantung Estuary, mereka merasakan sensasi membingungkan seolah dunia sedang bergeser. Tiba-tiba, permukaan batu hitam lapuk yang tadinya berada di depan mereka, kini justru berada di bawah. Hamparan gelap Tomb of Ariel yang semula berada di belakang mereka, mendadak beralih ke atas laksana langit tanpa cahaya.
Kapal ajaib itu mendarat dengan lembut di atas batu. Begitu mereka bertiga turun, kapal tersebut menghilang dengan kilauan samar, ditarik masuk ke dalam Soul Sea milik Ananke.
Sunny meliriknya, sempat bertanya-tanya apakah semua Supreme menyimpan kapal terbang di dalam jiwa mereka. Apakah itu memo yang diterima semua Supreme kecuali dirinya, ataukah Ananke dan Nephis memang unik dalam hal tersebut?
Apakah ada Supreme Academy rahasia tempat para calon Sovereign mempelajari trik-trik praktis semacam itu, di mana Sunny tidak diundang?
Tapi di sisi lain, saat ini ia sendiri menyimpan seluruh Citadel pengembara di dalam Soul Sea miliknya, jadi atas dasar apa ia mengeluh?
Untuk sesaat, Sunny bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika ia memanggil Nameless Temple dan membiarkan Ananke menambatkan dirinya ke Gateway kuil itu. Apakah Ananke akan mampu melintasi batas alam dan memasuki waking world, ataukah Gateway tersebut akan tetap tidak aktif, mengingat Ananke sejak awal bukan orang dari War Realm?
Mereka harus memeriksanya nanti...
Tentu saja, Sunny sadar bahwa ia tiba-tiba memikirkan semua hal yang tidak berhubungan ini hanya demi mengabaikan gejolak emosi rumit yang merayap di dalam hatinya.
Ia akhirnya kembali ke Estuary... tempat di mana ia telah memenangkan kebebasan yang telah lama dinanti, dengan mengorbankan takdir, rekan-rekan, dan tempatnya di dunia.
*‘Apakah itu sepadan?’*
Sunny merasa seolah-olah telah membuat kesalahan fatal yang tak bisa diperbaiki karena meninggalkan teman-temannya demi mengejar pembebasan. Bagaimanapun juga, itulah alasannya berada di sini: untuk membatalkan apa yang telah diperbuatnya. Ia diliputi penyesalan dan merindukan segala hal yang telah hilang, dan kini ia juga memahami arti kebebasan sejati dengan jauh lebih baik.
Namun, di saat yang sama...
Ia merasa jawabannya adalah ya. Bahwa pada akhirnya, semua itu sepadan.
Jika ia adalah orang yang sama seperti dulu dan dihadapkan pada pilihan yang sama, ia akan tetap memilih untuk menghancurkan belenggunya dan menjadi bebas.
Mungkin seseorang yang lebih tercerahkan dan bijaksana bisa membuat pilihan yang berbeda, tapi bukan Sunny... setidaknya bukan dirinya yang dulu. Dan ia harus memutus rantai itu terlebih dahulu untuk bisa menjadi pria seperti sekarang—pria yang menerima beban tanggung jawab yang mengikatnya bagai rantai, dan siap menambatkan diri kepada orang-orang yang ia sayangi, bahkan jika itu berarti mengorbankan kebebasannya.
Sunny harus terlebih dahulu mematahkan rantai yang dipaksakan padanya agar bisa kembali dan memilihnya atas kehendak bebasnya sendiri, di sini, di Estuary...
Apa yang telah bermula di sini pasti akan berakhir di sini pula, sama seperti Great River yang dulunya berawal dan berakhir di Estuary.
Akhir Chapter 2943
💬Komentar (0)
Tinggalkan Balasan
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *