City of Bones
Di tepian Verge, bangunan-bangunan bobrok masih berdiri tegak, dengan kegelapan purba yang bersarang di balik pintu dan jendela kosongnya. Namun lebih jauh ke dalam, kota itu telah rata dengan tanah, berubah menjadi lembah batu. Di sanalah gunung-gunung daging milik First Seeker dulu pernah terhampar—tetapi kini semuanya telah lenyap.
Tidak ada yang bergerak di Verge. Tidak ada kehidupan.
Sebagai gantinya, seluruh kota dipenuhi oleh tulang-belulang. Tulang-belulang yang tak terhitung jumlahnya berserakan di antara reruntuhan. Sebagian tampak seperti pernah menjadi milik manusia, sementara yang lain terdistorsi dan terpelintir secara mengerikan. Ada yang berukuran kecil, ada pula yang raksasa. Sebagian tergeletak sendirian, terjepit di antara puing-puing, sementara sebagian lainnya menumpuk menjulang tinggi.
Ada pula cangkang berongga dari makhluk-makhluk mengerikan yang luar biasa besar. Kerangka sisa-sisa dari para leviathan keji juga tampak di sana-sini.
Namun, satu hal yang tidak ada di kota tulang itu adalah Defilement.
Sumbernya telah menghilang, dan Defilement itu sendiri pun ikut lenyap.
"Apa yang kau lihat?"
Nephis tidak bisa melihat dalam kegelapan, dan cahaya apinya tidak mampu menjangkau sejauh itu. Kendati demikian, dia bisa merasakannya—ketiadaan musuh mengerikan yang telah siap dia hancurkan untuk kedua kalinya.
Sunny menghela napas.
"Sudah lenyap. First Seeker, para Defiled... mereka semua sudah musnah."
Pada saat itu, dia merasa mengerti bencana seperti apa yang telah menimpa Great River. Monster tak terhentikan dan tak kenal ampun macam apa yang telah mendatangkan kehancuran mutlak seperti ini, hanya menyisakan keheningan dan kepedihan di jejaknya.
Itu adalah waktu.
Shadow God mungkin telah menciptakan kematian, tetapi waktu adalah pembunuh sejati. Pada akhirnya, waktu menghancurkan segalanya... bahkan Great River pun akhirnya tumbang di hadapan kekejamannya yang tanpa belas kasihan, terlepas dari kenyataan bahwa tempat ini adalah River of Time.
Sunny terdiam beberapa saat lebih lama, lalu menggelengkan kepala.
"Ayo pergi."
Bersama-sama, mereka melangkah masuk ke Verge dan menyusuri jalanan yang sunyi, melangkahi tulang-belulang kuno. Kemudian, mereka mendaki puing-puing yang telah rata dan berjalan melintasinya. Setelah menyeberangi lautan tulang tersebut, mereka mencapai tepi lain dari kota yang runtuh itu dan kembali melihat air yang gelap serta tenang.
Nephis menatap air itu cukup lama, lalu memejamkan mata sejenak.
"Semuanya... semuanya berbeda dari yang kubayangkan."
Dia mengembuskan napas perlahan.
"Aku benar-benar mengira setidaknya First Seeker akan ada di sini."
Sunny mengangguk.
"Aku juga."
Kemudian, dia menatap ke dalam kegelapan... tempat di mana Estuary dan Vile Thieving Bird telah menanti.
"Tidak ada apa-apa lagi untuk kita di sini. Ayo pergi. Seharusnya sudah tidak jauh lagi sekarang."
Mereka pun meninggalkan kota tulang itu di belakang.
Dahulu kala, Sunny pernah mengarungi bentangan terakhir Great River dengan perahu ketch kecil. Saat itu, dia bertemu dengan banyak Nightmare Creatures yang mengerikan—lagipula, kekejian paling menakutkan dari Great River memang bersemayam di jangkauan masa lalu yang paling jauh dan masa depan yang paling terpencil.
Namun bahkan kengerian-kengerian itu pun kini tidak ditemukan di mana pun. Oleh karena itu, Sunny dan Nephis melakukan perjalanan dalam ketenangan yang relatif damai.
Hanya saja, air Great River menjadi semakin dangkal dan menipis seiring semakin dekatnya mereka ke Estuary.
Pada akhirnya...
Great River benar-benar berhenti.
Bahkan tidak ada air terjun raksasa di tempat airnya berakhir, melainkan hanya kepunahan yang terjadi secara bertahap. Daerah dangkal terbentang luas, lalu menjadi pemandangan di segala penjuru. Alih-alih pulau-pulau kegelapan hampa yang menyela permukaan air tenang bagaikan bisul nanah, kini justru genangan-genangan air kecil yang memecah hamparan luas kegelapan hampa, terpisah oleh jarak yang amat jauh.
Dan akhirnya, Sunny dan Nephis mencapai secuil perairan dangkal yang tampaknya merupakan yang terakhir—setidaknya, tidak ada lagi air lain yang terlihat dari sana. Yang tersisa hanyalah kehampaan gelap yang tak berujung.
Sebuah jurang besar dari ketiadaan yang gelap...
Dan di suatu tempat yang jauh, terlalu jauh untuk bisa dilihat, terdapat secercah petunjuk tentang sesuatu yang tersembunyi di dalam kegelapan.
Mewujudkan lapisan tipis bayangan di atas permukaan air, Sunny melangkah ke tepi paling ujung dan menatap ke bawah dengan raut wajah termenung.
Dia terpaku selama beberapa saat, lalu bertanya dengan nada muram:
"Sekarang bagaimana?"
Bukannya menjawab, Nephis mengangkat tangan dan menunjuk ke kejauhan.
"Sunny, lihat."
Nephis tidak bisa menembus kegelapan dengan matanya, jadi kecil kemungkinan dia melihat sesuatu yang luput dari pandangan Sunny.
Namun, hal itulah yang justru terjadi. Sebab ketika Sunny memandang ke arah yang ditunjuknya, dia segera menyadari apa maksud Nephis.
Ada seberkas cahaya di dalam kegelapan.
Jauh di sana, sebaran percikan cahaya kecil bergerak perlahan... menjadi sedikit lebih terang. Seolah-olah sedang bergerak mendekat ke arah mereka.
Keduanya mematung di tempat, menyaksikan cahaya-cahaya di kejauhan itu mendekat.
Tak lama kemudian, mereka melihatnya...
Sebuah kapal berlayar melintasi kehampaan. Siluetnya tampak aneh dan kuno, berbeda dari kapal-kapal yang dibangun di waking world maupun Dream Realm—namun sangat mirip dengan perahu buatan River People. Lambung kapalnya tertutup rapat oleh ukiran-ukiran rumit, dan layar hitamnya disulam indah dengan benang perak. Percikan cahaya tadi rupanya berasal dari lentera-lentera yang bersinar di tiang kapal.
Bagi Sunny, kapal itu tampak seperti perahu penyeberang yang bertugas membawa jiwa-jiwa orang mati menuju Underworld.
"Tetap waspada."
Tak lama kemudian, kapal tersebut mendekati pulau air tempat mereka berpijak dan berhenti di sisinya.
Sunny dan Nephis saling berpandangan, lalu melompat ke atas geladaknya.
Di sana, mereka berdua membeku.
'Ini... tidak mungkin. Bagaimana bisa?'
Napas Sunny tercekat di dada.
Sebab, ada seseorang yang tengah menunggu mereka di atas kapal misterius itu.
Sosok itu adalah seorang wanita muda yang luar biasa cantik, mengenakan jubah hitam. Dengan perawakannya yang mungil, rambut hitam legam berkilau, kulit kecokelatan, serta mata biru yang tajam, dia tampak seperti roh sungai yang memikat. Wajah manisnya terlihat hidup dan menawan, sementara manik matanya berbinar memantulkan kobaran api Neph.
Wanita muda itu mengamati mereka selama beberapa saat, lalu membungkuk dalam-dalam.
Suaranya terdengar jernih dan merdu.
"Hail Weaver, Demon of Fate... Firstborn of the Unknown."
Wanita muda itu menegakkan tubuhnya, menatap mereka, lalu tersenyum hangat.
Senyumnya yang begitu meluluhkan hati terasa cukup terang untuk menerangi dunia.
"Ananke menyambut Children of Weaver."
Sunny hanya berdiri mematung di tempatnya.
Sementara itu, Nephis melangkah maju seolah terhipnotis.
"Ananke... kau masih hidup?"
Wanita muda itu menatap mereka dengan sedikit kebingungan.
"Tentu saja, tampaknya begitu. Bukankah aku terlihat hidup, my lady? Ini..."
Sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, Nephis merengkuhnya ke dalam pelukan erat.
Sunny akhirnya berhasil menggerakkan tubuhnya kembali.
Ia sempat ragu sejenak, sebelum akhirnya berkata dengan suara serak:
"Children of Weaver menyambut Ananke of Weave..."
Akhir Chapter 2930
💬Komentar (0)
Tinggalkan Balasan
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *