Menaiki Tangga
Begitu suara Yao Qing menggema di langit Red Dust Domain, seluruh dunia mendadak terdiam.
Divine Path Star berwarna biru langit menggantung di cakrawala. Bayangan para tokoh agung yang tak terhitung jumlahnya menatap ke ujung Divine Path. Di sana, sosok Yao Qing berdiri tegak dan kokoh, sementara di hadapannya terbentang kehampaan tak bertepi.
Dia sedang menunggu Ancient and Present Cosmos memberikan jawaban. Dia sedang menunggu anak tangga kesembilan.
Pada saat berikutnya, pemandangan di hadapan Yao Qing berubah.
Di dalam kehampaan, seolah-olah sesuatu tengah turun. Ia tidak memiliki wujud fisik, tetapi hadir di segala penjuru. Begitu turun, gelombang informasi yang sangat besar membanjiri benak Yao Qing.
Kesadarannya seakan menembus ruang dan waktu. Dengan mata kepalanya sendiri, dia menyaksikan manusia pertama yang dipelihara oleh alam. Dia menyaksikan sebuah suku berjuang bertahan hidup di tengah arus zaman.
Untuk pertama kalinya, mereka mengasah dahan menjadi tombak runcing. Untuk pertama kalinya, mereka mengukir pola-pola sederhana di atas batu. Untuk pertama kalinya, mereka menyalakan api di mulut gua.
Tiba-tiba, gelegar guntur yang memekakkan telinga meledak di sisi telinga Yao Qing!
Sejak saat itu, fondasi peradaban manusia berakar kuat di tengah tahun-tahun penuh gejolak. Ujung sungai waktu mengusap pipi Yao Qing. Dia melihat siang dan malam, laksana cahaya dan bayangan, melintas cepat di sela-sela daun yang bergoyang. Peradaban manusia terus menumpuk dengan pesat, ribuan tahun demi ribuan tahun.
Semakin banyak simbol terukir di atas batu. Suku-suku yang semula terpencar mulai saling terhubung menjadi kota-kota kecil yang tumbuh di sepanjang tepian sungai. Kain-kain berwarna cerah menghiasi kerumunan yang ramai.
Sebagian orang menari riang mengelilingi api unggun yang menjulang tinggi. Sebagian lainnya mengoleskan ramuan pada luka yang masih meneteskan darah. Ada pula yang menghibur diri dengan melempar dadu batu, masing-masing diukir dengan jumlah lubang bundar yang berbeda.
Pupil Yao Qing terus menyusut. Cahaya peradaban berkelap-kelip liar di dalamnya. Dia melihat piramida peradaban manusia tumbuh semakin tinggi di sepanjang sungai waktu.
Ditempa oleh arus zaman, piramida itu bukan hanya tidak terguncang sedikit pun, tetapi justru menjadi semakin megah dan menyilaukan!
Di mata orang lain, Yao Qing masih berdiri di anak tangga kedelapan, dengan kehampaan kosong terbentang di hadapannya.
Namun, di matanya sendiri, dia telah berdiri di hadapan menara peradaban yang luas dan tak bertepi.
Di hadapan menara itu, tubuhnya sekecil semut.
"Apakah ini... Ancient and Present Cosmos?" gumam Yao Qing.
Zaman terus berganti, sementara peradaban tetap menumpuk tanpa henti. Dia melihat lampu-lampu neon berkelap-kelip sekejap di dalam kegelapan, lalu segera padam dan lenyap ke dalam kehampaan.
Setelah Great Cataclysm, lahirlah Human Domains. Dia melihat Red Dust.
Bagi manusia, tiga ratus tahun merupakan tepian waktu yang tak mungkin dicapai. Namun, di hadapan peradaban manusia, kurun waktu itu tak lebih dari satu jentikan jari.
Dia melihat Red Dust Domain tiruan bangkit dari tanah di dalam Nuclear Ruins. Jutaan manusia hidup, berkembang, dan beranak-pinak di dalam Scroll. Tatanan lama perlahan digantikan, sementara tatanan baru mulai terbentuk.
Bagi nasib umat manusia, jutaan manusia itu hanyalah satu cabang yang teramat kecil. Namun, nasib cabang tersebut memang telah berubah karena Yao Qing.
Keberadaan Red Dust Domain tidaklah sempurna. Di balik permukaannya yang ramai dan indah, dosa serta kejahatan terus dipelihara. Namun, semua itu bukan kesalahan Yao Qing, juga bukan kesalahan siapa pun.
Pada akhirnya, inilah Human Nature itu sendiri.
Human Nature telah lahir jauh sebelum peradaban manusia. Ia merupakan jejak yang terpatri dalam gen manusia—sesuatu yang tak dapat diubah. Kemakmuran dan keagungan peradaban manusia sebagian besar memang bersumber dari Human Nature.
Namun, di mana ada cahaya, di sanalah kegelapan pasti mengikuti. Kejahatan yang lahir dari Human Nature akan selalu ada di setiap zaman dan setiap peradaban. Hukum yang sangat ketat mungkin dapat mengekangnya, tetapi tak akan pernah mampu melenyapkannya.
Jika bukan karena Floating Life Painting yang didirikan Yao Qing, sisi gelap Human Nature yang dipelihara oleh keputusasaan di dalam Nuclear Ruins pasti akan menjadi jauh lebih kejam dan semakin tak terkendali.
Art memang telah mengubah zaman.
Aura of the Ancient and Present Cosmos perlahan-lahan surut dari sekeliling Yao Qing, sementara menara agung peradaban manusia itu pun berangsur memudar dari pandangannya. Namun, pada saat yang sama, wujud langkah kesembilan perlahan tergambar di dalam kehampaan di hadapan Yao Qing.
Itulah simbol pengakuan peradaban manusia terhadap Yao Qing—langkah terakhir yang dipersembahkan Ancient and Present Cosmos kepadanya.
Heaven and Earth Bestowing a Position!
“Dia berhasil...?”
Saat melihat langkah itu muncul, pupil Lord of Wuji mendadak menyusut.
Senyum tipis akhirnya tersungging di wajah tua Yao Qing. Senyum itu sederhana dan murni. Pemuda lugu yang dahulu dicemooh dengan sebutan Sissy Yao itu telah melewati segala badai dan gelombang, hingga akhirnya menyaksikan awan tersibak dan langit menjadi cerah. Saat benar-benar berdiri di hadapan langkah kesembilan, ia seolah kembali menjadi pemuda itu.
“Bisa dibilang, hidupku kali ini tak menyisakan penyesalan.”
Yao Qing memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Ia mengangkat kakinya, lalu menjejakkan kaki itu perlahan di atas langkah kesembilan.
Pada saat berikutnya, suara dentuman ketika ia menapaki langkah itu menggema laksana dentang lonceng raksasa, menyebar ke seluruh dunia manusia!
...
Thief Path Ancient Vault.
Awan kelabu berarak di bawah langit yang hampa.
Di atas bumi tandus yang mati dan sunyi, sebuah kuil megah bergaya Eropa abad pertengahan berdiri menjulang. Harta tak terhitung jumlahnya dan jendela-jendela kaca patri dari lantai hingga langit-langit memantulkan cahaya, menjadikannya laksana satu-satunya mutiara cemerlang di tengah Gray Realm.
Dari balik jendela-jendela kaca patri yang berwarna-warni, tampak puluhan juta artefak budaya dipajang di dalam kuil. Ada senjata perunggu yang kusam dan berkarat, kuali emas berkaki tiga dari Dinasti Ming yang bertatahkan permata, mangkuk sup Saint-Germain milik Louis XV, mahkota India yang dihiasi sebelas zamrud Kolombia, manuskrip Da Vinci dengan halaman-halaman menguning, hingga Ferrari 250LM klasik yang masih utuh sempurna.
Harta-harta dari zaman dan wilayah yang berbeda itu berkumpul di sini, melintasi ruang dan waktu. Seolah-olah sebuah tangan raksasa tak kasatmata telah merampas benda paling berharga dari setiap peradaban sepanjang sejarah, lalu menyimpannya di dalam kuil yang megah ini.
Jauh di bagian terdalam kuil, sebuah singgasana perak yang memancarkan tekanan luar biasa berdiri menjulang di atas seluruh harta.
“Hm...”
Di tengah kuil yang sunyi seperti kematian, suara terkejut yang lembut tiba-tiba terdengar. Sosok yang duduk di atas singgasana perak perlahan membuka matanya.
Ia adalah seorang pria yang mengenakan kemeja putih bergaya Inggris dan rompi kelabu ala gentleman. Kancing-kancing berukir emas tersusun rapi di bagian depan dadanya, sementara rambut hitam panjangnya yang sedikit ikal jatuh di belakang telinga, membuatnya tampak seperti bangsawan yang baru keluar dari Eropa abad pertengahan.
Garis wajahnya tegas, dengan mata biru muda. Meski memiliki ciri khas wajah seorang Barat, kelembutan raut wajah Timur juga tetap melekat padanya, memberinya kesan sebagai keturunan campuran.
“Heaven and Earth Bestowing a Position, ya... Tak kusangka, di zaman seperti ini Path of the Arts masih mampu melahirkan seorang Demigod.”
Ia menopang kepalanya dengan satu tangan sembari menatap penuh minat ke arah tertentu dalam kehampaan. Dengan tangan yang lain, ia entah dari mana mengeluarkan sekeping koin emas Aureus dari Romawi Kuno, lalu memutar-mutarnya dengan lincah di ujung jari-jarinya yang panjang.
“Path of the Arts cukup menarik. Meminjamnya untuk bermain-main selama beberapa hari juga bukan ide buruk...”
Alisnya terangkat tipis. Dengan jentikan ujung jari, koin emas itu melambung ke udara. Pada saat yang sama, telapak tangannya yang ramping terangkat, seolah hendak meraih sesuatu di dalam kehampaan. Namun, sesaat kemudian, ujung jarinya berhenti di udara.
Seolah menyadari sesuatu, alisnya sedikit berkerut.
Ting!
Koin emas Aureus jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring. Setelah berputar dua kali, koin itu tergeletak diam.
“Melihat kondisimu begitu menyedihkan, kali ini aku tak akan mencuri darimu...”
Ia menggelengkan kepala dengan sedikit penyesalan.
“Kukira dunia ini akan memiliki satu orang menarik lagi... Sayang sekali.”
Akhir Chapter 671
💬Komentar (0)
Tinggalkan Balasan
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *