🌙Lunovel
I Am Not the God of Drama
Ch 1: Kembalinya Hantu Opera
Chapter 1

Kembalinya Hantu Opera

1.051 kata·~5 menit baca·0% selesai
Awal

“Siapa... aku?”

Kilatan petir pucat membelah awan hitam legam, disusul gelegar yang memekakkan telinga. Hujan turun tercurah seolah langit sedang murka, mengguyur tanah berlumpur hingga basah kuyup. Dalam pantulan air yang beriak di sebuah genangan, tampak sosok berpakaian merah menyala—terpecah dan terdistorsi.

Seorang pemuda mengenakan jubah opera merah yang megah. Ia berjalan sempoyongan menembus lumpur seperti orang mabuk, lengan jubahnya yang lebar berkibar liar diterpa badai. Lumpur yang melekat di jubahnya perlahan tersapu hujan, menyingkap warna merah laksana darah yang tampak mencolok di tengah gelapnya malam.

“Berhenti... berhenti!”

“Diam kalian semua!”

“Aku hampir mengingatnya... sebentar lagi aku akan mengingatnya...”

“Aku punya nama... nama yang menjadi milikku!”

Rambut hitam pemuda itu basah dan menempel di dahinya. Tatapannya kosong, dipenuhi kebingungan. Sambil memegangi kepala, ia terus melangkah dengan susah payah, seolah tengah berjuang mengingat sesuatu.

Teriakan murkanya menggema di jalanan yang sepi, tetapi segera ditelan tirai hujan yang tak berkesudahan.

Buk!

Dalam cahaya yang remang-remang, kakinya tersangkut batu yang menonjol. Ia pun terjerembap ke tanah.

Setetes darah merah mengalir dari pelipisnya. Ia terbaring dalam keadaan linglung, sampai tiba-tiba seberkas cahaya samar muncul di matanya yang keruh.

“Chen Ling...”

Sebuah nama melintas di benaknya.

Begitu mengucapkan dua kata itu, sepotong ingatan muncul dari bisikan-bisikan tak berujung yang nyaris menenggelamkan kesadarannya. Ingatan tersebut menyatu dengan tubuhnya yang lemah.

“Apa ini... transmigrasi?”

Chen Ling mengernyitkan dahi. Kepalanya terasa nyeri seolah sedang dicabik dari dalam. Ia adalah Chen Ling, seorang sutradara magang berusia dua puluh delapan tahun di sebuah teater ibu kota. Seusai pertunjukan malam itu, ia tinggal sendirian untuk mengatur koreografi gerakan para aktor di atas panggung. Kemudian, gempa bumi dahsyat terjadi. Ia hanya sempat mengingat rasa sakit yang menusuk kepalanya sebelum semuanya berubah gelap.

Kalau dipikir-pikir, kemungkinan besar ia tewas tertimpa lampu panggung yang jatuh...

Saat perlahan menyerap ingatan pemilik asli tubuh ini, Chen Ling terkejut karena orang tersebut juga bernama Chen Ling. Namun, pemahaman mereka tentang dunia sama sekali berbeda. Fragmen-fragmen ingatan itu berbenturan hebat di dalam kepalanya, seolah hendak meledak.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berusaha bangkit dari tanah. Jubah operanya kini menjadi campuran warna hitam dan merah, membuat penampilannya tampak menyedihkan.

Entah mengapa, tubuh ini terasa sangat berat. Rasanya seperti ia telah begadang selama empat atau lima malam berturut-turut untuk menulis naskah, sampai seluruh tenaganya terkuras habis...

“Aku harus pulang...”

Kelelahan dan kekacauan di dalam pikirannya membuatnya tak mampu berpikir jernih. Ia hanya bisa mengikuti naluri tubuh ini dan berjalan menuju tempat yang disebut “rumah”.

Meskipun tidak tahu bagaimana dirinya bisa sampai di sini, ingatan pemilik asli tubuh ini mengenali tempat tersebut. Setiap hari, setelah merawat adik laki-lakinya di klinik, ia selalu melewati jalan ini untuk pulang. Biasanya, perjalanan itu hanya memakan waktu dua atau tiga menit.

Namun bagi Chen Ling sekarang, jalan tersebut terasa tak berujung.

Hujan sedingin es meresap hingga ke tubuhnya, membuatnya menggigil. Setelah sepuluh menit bertahan dalam dingin dan kelelahan, ia akhirnya tiba di depan rumahnya.

Chen Ling merogoh saku, tetapi tidak menemukan kunci.

Lalu, seolah digerakkan oleh kebiasaan, tangannya meraba bagian bawah kotak koran di samping pintu dan menemukan sebuah kunci cadangan. Ia membuka pintu, kemudian melangkah masuk.

Kreek—

Cahaya hangat tumpah dari dalam rumah, menerangi sudut malam yang gelap dan diguyur hujan. Sinar itu menyinari wajah pucat Chen Ling.

Begitu melihat cahaya tersebut, sarafnya yang tegang seketika mengendur. Kehangatan itu seolah mengusir sebagian rasa dingin dan lelah yang mencengkeram tubuhnya.

Ia melangkah masuk dan mendapati dua sosok duduk di meja makan. Mata mereka memerah, seakan baru saja menangis.

Mendengar pintu terbuka, keduanya membeku sebelum menoleh secara bersamaan.

“Ayah... Ibu... aku pulang.”

Kepalanya masih terasa berkabut. Secara naluriah, Chen Ling hendak mengganti sepatu di dekat pintu masuk, tetapi baru menyadari bahwa ia tidak mengenakan alas kaki. Kedua telapak kakinya belepotan lumpur, meninggalkan dua jejak hitam besar di lantai.

Kedua sosok di meja menatap Chen Ling yang berjubah merah. Pupil mata mereka mengerut karena terkejut.

“Kau... kau...”

Tenggorokan pria itu bergerak-gerak ketika ia menatap dengan mulut ternganga. Wajahnya dipenuhi ketakutan yang tak tertutupi.

“Ibu... ada air? Aku haus sekali.”

Begitu berada di dalam rumah, pikiran Chen Ling sepenuhnya mengendur dan kesadarannya nyaris lenyap. Sambil bergumam, ia sempoyongan menuju dapur, meraih botol air dari dispenser, lalu menenggaknya dengan rakus.

Teguk. Teguk. Teguk.

Di dapur, sosok berjubah merah itu menyerupai binatang buas yang sedang melahap buruannya. Ia menelan air dengan rakus.

Air menetes dari sudut bibirnya dan menggenang di lantai. Permukaan genangan itu memantulkan wajah pucat penuh kengerian dari kedua orang di ruang tengah.

“A... A-Ling?” Perempuan itu memaksa dirinya berbicara dengan suara gemetar. “Bagaimana... bagaimana kau bisa pulang?”

Chen Ling masih mencengkeram botol air itu dan seolah tidak mendengar perkataannya. Kemudian, mungkin karena minum dari botol terasa terlalu lambat, ia menjejalkan mulut botol ke dalam mulutnya dan menggigitnya hingga pecah.

Plastik sintetis itu remuk di antara giginya. Air pun mengalir deras ke dalam mulutnya, seolah membawa kelegaan tanpa akhir.

“Aku berjalan pulang.”

Suara itu terdengar dari belakang Chen Ling.

Ya... dari belakang.

Chen Ling masih sibuk menenggak air, tetapi suaranya terdengar jelas oleh kedua orang di ruang tengah. Seolah-olah ada Chen Ling lain yang berjubah merah berdiri di kehampaan tak kasatmata di belakangnya, merentangkan tangan dan menjawab dengan nada datar.

“Hujannya deras sekali. Sepertinya aku tersesat.”

“Kurasa aku sempat jatuh beberapa kali di jalan... dan sepatuku hilang.”

“Ibu, lantainya jadi kotor. Kalau tidak mendesak, akan kubersihkan besok... sekarang aku terlalu lelah.”

Rasa dingin menjalar di sepanjang tulang punggung pasangan itu saat mereka menyaksikan pemandangan mengerikan tersebut. Api lampu minyak berkelip-kelip, seakan ada tangan tak kasatmata yang sedang memainkan sumbunya.

Wajah mereka memucat, tetapi keduanya tetap membeku di tempat, tidak berani bergerak sedikit pun.

Akhirnya, botol air itu kosong.

Chen Ling menyeka mulutnya, meletakkan botol tersebut, lalu berbalik. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kaki hitam di lantai saat ia sempoyongan menuju kamar tidur.

“Ayah, Ibu... kalian juga sebaiknya beristirahat. Selamat malam.”

Ia bergumam, menutup pintu di belakangnya, lalu terdengar bunyi gedebuk tumpul ketika tubuhnya ambruk ke atas ranjang.

Ruang tengah jatuh ke dalam keheningan mutlak.

Setelah waktu yang terasa seperti keabadian berlalu, kedua sosok yang membatu itu akhirnya menoleh dengan kaku... lalu saling memandang.

Nyala lampu minyak yang berkelip perlahan kembali tenang, memancarkan cahaya redup ke seluruh ruangan. Keduanya duduk gemetar di kursi, wajah mereka pucat tanpa sedikit pun warna.

“Dia... pulang,” ujar pria itu dengan suara serak. “Bagaimana mungkin...?”

“Kalau dia benar-benar A-Ling...”

“Lalu siapa yang kita bunuh tadi malam?”

⁂

Akhir Chapter 1

Awal

Komentar (0)

Memuat komentar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0/5000